BOSCH FIRE ALARM SYSTEM

BOSCH conventional Module

Category: Tag:

Description

Sistem Konvensional: Sistem ini menggunakan kabel isi dua untuk semua jenis detektornya. Kabel yang dipakai umumnya kabel listrik NYM 2×1,5mm atau NYMHY 2×1,5mm (kecuali dinyatakan lain oleh konsultan). Pada instalasi yang cukup kritis kerap dipakai kabel tahan api (FRC=Fire Resistance Cable) dengan berbagai ukuran, misalnya 2×0,75mm atau  2×1,5mm khususnya untuk kabel yang menuju panel alarm kebakaran atau ke sumber listrik 220V. Oleh karena itu umumnya memakai kabel isi dua, maka pada alarm kebakaran konvensional dikenal pula istilah 2-wire.

Pada sistem 2-wire nama terminal pada detektornya adalah L (+) dan Lc (-). Kabel ini dihubungkan dengan panel fire alarm pada terminal yang berlabel L dan C juga. Tergantung dari jumlah loop-nya, maka pada terminal alarm kebakaran sering ditulis L1, L2, L3 dan seterusnya. Hubungan antar detektor satu dengan lainnya dilakukan secara paralel dengan syarat tidak boleh bercabang. Artinya harus ada titik awal dan ada titik akhir.

Titik akhir tarikan kabel disebut dengan istilah End-of-Line (EOL). Di titik inilah detektor kebakaran terakhir dipasang dan di sini pulalah satu loop dinyatakan berakhir (stop). Pada detektor terakhir ini dipasang satu buah EOL Resistor atau EOL Capacitor (pada merek tertentu). Jadi yang benar adalah EOL Resistor ini dipasang di ujung loop, bukan di dalam Control Panel. Jumlahnya pun hanya satu EOL pada setiap loop.  Oleh sebab itu bisa dikatakan, bahwa 1 Loop = 1 Zone yang “ditutup” oleh resistor End of Line (EOL resistor).

Sekilas Mengenai Fungsi EOL Resistor

Fungsi EOL resistor adalah sebagai penyalur atau pembaca sinyal supervisi. Seperti diketahui, semua sistem alarm bekerja berdasarkan ada tidaknya sinyal supervisi dalam satu loop. Loop sendiri diartikan sebagai satu lintasan listrik di mana di sana ada satu titik berangkat dan satu titik akhir (tujuan).

Katakanlah titik awal adalah A dan titik akhirnya adalah B. Dalam dasar-dasar rangkaian listrik (hukum Ohm) diketahui, bahwa arus listrik akan mengalir dalam satu loop tertutup yang dalam hal ini dari A ke B. Karakteristik loop sendiri akan menentukan kondisi alarm kebakaran. Pada kondisi loop Normal (artinya kabel tidak putus dan detektor tidak ada yang dilepas), maka resistor EOL ini akan “terbaca” oleh kontrol panel. Hal itu dikarenakan tegangan pada EOL resistor tidak lain adalah tegangan A – B itu sendiri. Berbeda dengan kondisi kedua, di mana di sana terdapat kabel yang putus. Maka, dalam kondisi ini loop akan dikatakan terbuka (open)Karena terbuka, maka tegangan A-B akan hilang alias nol. Kondisi ini oleh kontrol panel diterjemahkan sebagai Trouble yang secara periodik membunyikan buzzer pada panel.  Sedangkan kondisi terakhir disebut loop short, yaitu disebabkan oleh adanya detektor yang mendeteksi gejala kebakaran, misalnya panas dan asap. Pada kondisi ini, panel alarm akan menyatakan ada kebakaran dan sirine di setiap lantai pun akan berbunyi.

Sistem Addressable: Sistem alarm kebakaran addressable adalah sebuah sistem yang terdiri dari detektor api dan perangkat yang terhubung kembali ke panel kontrol pusat. Dengan sistem addressable, setiap perangkat memiliki sebuah alamat atau lokasi, memungkinkan detektor yang terpicu dapat teridentifikasi secara cepat dan tepat. Sistem ini cocok digunakan untuk gedung-gedung besar, khususnya tempat-tempat komersial.

Salah satu keuntungan besar dari sistem alarm kebakaran addressable adalah dapat dikonfigurasi, supaya petugas keamanan dapat merespons kejadian kebakaran di area yang tepat tanpa mengira-ngira. Misalnya program “cause and effect” dapat digunakan untuk memilih suara pada sirine yang diterapkan untuk detektor pada area tertentu. Ini berarti evakuasi dapat dilakukan dengan cepat dan tepat, karena hanya dari suara sirine tersebut petugas keamanan sudah mengetahui area mana yang sedang terjadi kebakaran.

Sistem semi addressable: Sistem ini dinilai lebih efektif jika dibandingkan dengan sistem konvensional karena lebih mendekati untuk mencari di mana sebenarnya zona kebakaran terjadi.

Sistem ini adalah pembentukan sistem konvensional menjadi sistem addressable dengan menggunakan control module. Caranya yakni menghubungkan sistem konvensional dengan module control kemudian dihubungkan pada zona yang memiliki detektor-detektor.

Sekitar Penggunaan Istilah

Adapun mengenai penggunaan istilah konvensional, istilah  ini untuk membedakannya dengan sistem Addressable. Pada sistem konvensional, setiap detektornya hanya berupa kontak listrik biasa (bukan data yang mengirimkan ID khusus).

Jenis 3-wire digunakan apabila dikehendaki agar masing-masing  detektor memiliki output berupa lampu indikator sendiri-sendiri. Contoh aplikasinya, misalkan untuk mengidentifikasi kamar-kamar hotel, rumah sakit, ruangan panel, ruangan genset, dan lainnya. Sebuah lampu indikator—yang disebut Remote Indicating Lamp—dipasang tepat di atas pintu bagian luar setiap kamar dan akan menyala pada saat detektor di ruangan itu mendeteksi. Dengan begitu, maka lokasi deteksi (baca: kebakaran) dapat diketahui dengan pasti oleh orang yang berada di luar ruangan melalui nyala lampu.

Sedangkan yang terakhir adalah jenis 4-wire yang digunakan pada kebanyakan detektor asap 12V agar bisa dihubungkan dengan panel alarm rumah. Seperti diketahui panel alarm rumah menggunakan sumber 12VDC untuk menyuplai tegangan ke sensor di mana salah satunya bisa berupa detektor asap. Jika demikian, maka digunakanlah tipe detektor asap 4-wire ini.  Di sini, dua kabel dipakai sebagai supply +12V dan 12V, sedangkan dua kabel lagi adalah relay NO (Normally Open) dan C (Common) yang dihubungkan dengan terminal ZONE dan COM pada panel alarm. Biasanya detektor 4-wire ini memiliki rentang tegangan antara 12VDC sampai dengan 24VDC.

 

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “BOSCH FIRE ALARM SYSTEM”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *